Akhirnya bebas πŸŽ“πŸ‘©β€πŸŽ“

Sebenarnya ini Desember tahun lalu sih, tapi karena belum ditulis di sini jadi rasanya belum sah. Oh ya setelah aku membaca postinganku sebelum-sebelumnya, rasanya cara menulisku sudah berubah. Dulu lebih terstruktur, sekarang jadi liar begini πŸ˜…. Maaf ya… Nanti kuusahakan mambuat postingan yang “serius” lagi. Yang kata-katanya baku, kalau ada kata asing di-italic, dan memenuhi kaidah SPOK. Pengen nyerpen lagi deh πŸ˜‚πŸ˜‚.

Oke, jadi setelah bergelut dengan skripsi, akhirnya aku lulus juga. Bukan hanya lulus, tapi juga jadi lulusan terbaik dari jurusanku. Bangga sedikit boleh kan? Walau sebenarnya aku tidak terlalu excited lagi karena aku sudah bisa menduganya. Bukannya sombong, tapi memang sewaktu kuliah aku bisa dikatakan cukup rajin dan mudah menyerap pelajaran. Dan kebetulan teman-temanku lebih menikmati masa kuliahnya ketimbang aku 🀣. Walau aku ga ansos-ansos amat sih, punya 2-5 teman lah yang bisa diajak berkelompok kalau tugas. Yang dekat banget sih cuma Lili sama Setro. Aku ikut sedikit kegiatan kampus, tapi tidak pernah sampai malam karena rumahku jauh dan aku juga ditungguin nenekku.

Rasanya aku belum menikmati kuliah semaksimal yang lain (trip bareng temen kuliah, pulang malam bahkan pagi karrna jadi panitia acara, rapat dan lembur, nge-MOS in maba, kenalan sama kakak dan adik kelas, dll) tapi aku merasa cukup puas. Aku kenalan dengan adik kelas lewat menjadi asisten dosen dan itu sudah cukup seru. Bahkan dari situ aku jadi bisa kenal dengan kak Didi πŸ˜†.

Begitulah 4 tahun perkuliahanku akhirnya berakhir juga. Demi selembar kertas yang bahkan belum pernah kupakai (aku melamar kerja sebelum lulus, bahkan sebelum sidang skripsi). Saranku, lebih nikmati saja momen kuliah kalian. Ikut kegiatan, cari koneksi, cari pacar(?) dan sahabat. Aku sendiri juga kadang bolos kalau malas, harus mengerjakan tugas kelas lainnya, atau kalau pelajaran di kelas tidak menarik. Aku bukan straight A student yang datang pagi dan rajin mencatat kok (well, mungkin 2 semester pertama hampir begitu). Mungkin bandelku di kuliah itu 20% saja, masih kurang banget sih πŸ˜‚.

Jadi Speaker πŸ—£οΈπŸ“’

Ini benar-benar series of fortunate event sih. Aku jadi semakin yakin sama mottoku:

Fortuna favi fortus, keberuntungan memihak mereka yang berani

Yup, aku untuk pertama kalinya jadi speaker di hadapan 300an orang yang ga aku kenal. Wajah dan namaku muncul di poster. Dan penyelenggara eventnya adalah Google. Walau dari komunitasnya yang menyelenggarakan, tapi tetep aja keren bangettt. Aku yang hanya partikel atom ini mah apa atuh. Benar-benar ga sebanding dengan pembicara lainnya, aku bahkan sempat minder.

Materi yang kubawakan memang tidak terlalu teknis, lebih ke pengalaman sehari-hari sebagai software engineer. Jadi benar-benar seperti bercerita. Karena aku memang senang bercerita (dan sudah mempersiapkan jawaban berdasarkan pertanyaan yang diberikan), jadi rasanya enjoy dan mengalir saja. Tumben sekali aku tidak gugupan seperti presentasi biasanya. Mungkin karena duduk dan bukan tentang hal teknis.

Nah kembali lagi, gimana caranya sampai aku bisa ditawari jadi speaker?

Awalnya, beberapa bulan lalu, aku sempat ditawari untuk membawakan materi di kantorku. Semacam mini tech talk di mana aku mengajarkan sedikit tentang teknologi yang kuketahui ke adik-adik kelas. Kenapa kusebut adik kelas? Karena aku sendiri ikut program training/akselerasi di kantorku, jadi aku sebagai batch 2 jadi guest speaker untuk batch 3. Aku membawakan topik tentang GraphQL, mahkluk yang bahkan baru aku pelajari kulit-dagingnya dalam waktu 1 bulan saja di project baruku. Tapi karena sedang butuh pembicara dan aku lumayan suka presentasi, jadinya kuiyakan saja. Nekat seperti biasa.

Akupun menyiapkan presentasi dan demo sebaik mungkin. Siapa sangka presentasiku akan mengantarkanku menjadi speaker di acara itu. Ternyata, salah satu adik kelasku di batch 3 itu adalah anak yang aktif di komunitas Google. Ia jadi kenal denganku sejak aku membawakan presentasi kemarin dan menurutnya presentasi itu enjoyable. Iapun mengajakku menjadi volunteer di salah satu DevFest 2019. Aku mengiyakan. Dari sana, ia mengajakku lagi. Namun kali ini dia sedang butuh pembicara engineer wanita. Dan dari situlah asal muasalnya. Benar-benar keberuntungan yang dimulai dari hal kecil. Aku bersyukur sekali bisa sampai ke titik ini, tanpa bantuan orang-orang di sekelilingku rasanya ini mustahil. Tahun depan berarti aku harus lebih nekat! πŸ˜‰