Akhir magang, what’s next?

Kemarin pada tanggal 31 Agustus, masa magang saya telah berakhir. Sebenarnya kemarin tulis sampai tanggal 3 September sih, tapi tanggal 1 ada libur, lalu 2 dan 3 nya hari Sabtu Minggu. Jadi 31 Agustus kemarin menjadi hari terakhir saya datang ke gedung 50+ lantai di bilangan Kuningan itu.

Sebelumnya, saya menanti-nanti kapan hal ini akan terjadi. Bukan karena kerjaannya tidak enak, tekanan rekan kerja, atau hal-hal negatif lainnya. Saya hanya… Sering kali merasa saya tidak banyak membantu dan lambat, seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelumnya (part 1 dan part 2).

Namun pada akhirnya benar dugaan saya. Ketila waktunya tiba, malah jadi tidak rela dan ingin diperpaaaaannnnjjjaaaaannnnggg. Masih banyak yang harus saya pelajari di sini, masih banyak orang inspiratif yang dapat saya temui di sini, banyak kenangan yang bisa terukir di sini, bahkan masih ada bug di kode yang harus saya selesaikan.

Tapi dari pengalaman magang ini saya jadi tau hal-hal apa saja yang perlu saya pertahankan dan tingkatkan untuk magang berikutnya dan pekerjaan selanjutnya. Positifnya, saya cukup tepat waktu dan ramah kepada rekan-rekan kerja. Negatifnya, saya cengeng padahal nggak ada yang ngapa-ngapain, kebanyakan sih hanya karena pikiran berlebihan saya kalau saya tidak bisa apa-apa yang membuat saya sedih sendiri. Di akhir magang juga saya menjadi melankolis dan bocor lagi 😦 .

Saya senang sekali bisa mendapat kesempatan untuk magang dengan posisi yang sedemikian prestisius di kantor yang lebih prestisius lagi. Seperti menang undian lalu dapat jodoh mendadak #loh. Enam bulan sebelumnya saya bahkan belum terpikirkan akan magang di mana dan posisi apa. Belum melamar di mana-mana pula. Tapi untunglah berkat doa dari nenek dan orang tua serta rahmat dari-Nya, semua direncanakan dan menjadi indah pada waktunya 🙂 .

Walau magang pertama ini telah berakhir, pengalaman dan pelajaran hidup ini barulah menjadi bekal untuk perjalanan panjang yang menanti di depan. Bulan dua nanti saya akan magang lagi dengan posisi yang berbeda drastis (dasar cari susah) di perusahaan dengan cara kerja berbeda pula. Apakah dan di mana itu? Nantikan kelanjutannya, ya! (Kalau berminat hehe).

Iklan

Kejutan di Rumah Makan Kuning

Saya merasa harus menuliskannya di sini sebelum terlupakan. Kemarin saya sempat pergi dengan Kak Didi, lalu kami makan kari ala jepang di sebuah restoran serba kuning. Saya dan dia sama-sama belum pernah coba, jadi kami mau coba-coba deh. Pas masuk dan  cari tempat duduk, dia bilang ke mbaknya minta bangku untuk 4 orang agar dapat ruang lebih. Pas kubilang ‘nanti kalau ketahuan mbaknya gimana, kan ga enak?’ dia malah bilang ‘ya kan belum tentu juga “orang” yang lain dateng’. Pinter juga dia -_- .

Kami duduk di dekat pintu masuk, sesuai arahan mbaknya. Well, sebenarnya tidak ada pintunya juga sih, namanya juga tempat makan di mall. Hari itu giliran saya yang traktir mengingat baru dapat gaji magang (yey!) dan kemarin dia sudah traktir sushi Aeon :9 . Kemarinnya lagi saya sudah traktir (ga full sih, dia tetep ada bayarnya o.o) Imperial Lamian. Beneran deh, saya jadi coba banyak makanan yang belum pernah saya makan sebelumnya. Semuanya berjalan lancar sampai buku kuning itu tiba di atas meja. Buku menu.

Harganyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……. OMG

20478900_455906254781046_1048439720687697920_n

instagram.com/monkeyjeep

Untuk sebuah kenikmatan yang hqq seperti ini, saya harus merogoh kocek sebesar 60-80 ribu per piring, dengan minuman 12-25 ribu. Saya sempat mau pesan kids meal, selain lebih banyak variannya dan lucu-lucu, saya juga sedang tidak terlalu lapar dan harganya lebih murah, sekitar 40-50 ribu. Tapi tidak boleh, hanya untuk 12 tahun kebawah 😦 . AKU KAN MASIH UNYU MBAKK!

Itu kejutan pertama. Dia sepertinya juga menyadari (dan terkejut juga) dan bilang kalau nanti split bill saja. Jadi tidak enak belum traktir juga 😦 . Akhirnya kami memesan juga. Saya pesan minced beef curry dan dia yang omelet sama krim gitu yang terlihat menggiurkan. Pikirku nanti juga bisa cicip, hehe :9 .

Kejutan kedua datang tidak lama kemudian. Tiba-tiba muncul sesosok wajah yang familiar menyapa. Dia anak TI angkatanku, sempat ikut klub competitive programming bareng juga. MATENG DEH. Aku maluuuu >…< . Bukan malu karena dia malu-maluin atau gimana tapi ya malu aja bisa ketemu begitu dan lagi begitu dan sama itu. Oh, seharusnya tadi makan yang pasti-pasti saja >………< . Dia bela-belain datang masuk ke restoran itu cuma bilang ‘Hai’ terus keluar lagi -_- . Mbete >.< .

Untungnya dia sendirian dan habis itu langsung pergi. Fiuh. Sudah biarkan sajalah, toh memang bisa lebih buruk lagi?

Ternyata bisa.

Tiba-tiba masuk serombongan anak TI dan satu dosen TI (masih muda juga sih dan memang alumni dari kampusku juga) yang rata-rata kukenal dan Kak Didi kenal juga. Waduh, satu aja udah jadi udang rebus, ini serombongan. >…………………………..>

Jadi lobster rebus deh saya. Kata Kak Didi saya panik banget padahal saya yakin dia jugaa~! Lihat saja dia, biasanya suka comot-comot makanan atau menawarkan makanannya langsung jadi kalem begitu. Sampai akhirnya saya yang harus minta cicip duluan (karena emang penasaran hehe). Terus juga nyalain laptop padahal sih waktu kami terbatas (cuma 1-2 jam) dan nanyain saya ada yang mau dibantu tidak soal kodingan (kerjaan) bahkan seperempat maksa XD . Dia juga jadi ga minum juga karena kami cuma pesan satu gelas (biasanya gitu sih, terutama kalau yang refill), mungkin ga enak juga ya kalau sampai kelihatan yang lain.

Di akhir-akhir, karena kami selesai makan lebih dulu, Kak Didi mau pamit dulu sama yang lain (wuih steikul banget). Terus saya tanya kan, ‘gue di sini aja apa gimana?’. Terus dia jawabnya agak berbelit dan tidak jelas gitu tapi saya tangkapnya sih ‘ikut aja’. Soalnya dia bilang semacam tidak usah panik, biasa aja, berarti ikut aja dong? Ya sudah saya ikut toh emang ada beberapa yang saya kenal juga. Eh habis itu dia malah bilang kalau tadi dia bilang tunggu di luar aja. Yee… Ya sudahlah sudah kepalang basah, menceburkan diri saja sekalian.

Habis itu kita muter-muter aja sih, jalan-jalan, melihat orang-orang yang nekat ngantri segitu panjangnya kayak ular naga buat jus mangga overpriced. Jus mangga ukuran besar dengan yogurt, potongan mangga, dan sedotan yang lucu tepatnya. Harganya 50 ribu segelas. Bisa dapat 1.5 kg mangga, itupun harga supermarket.

Tapi sebenarnya saya masih bingung sih, kami itu apa ya(?) Jangan jawab manusia plis -_- . Okelah itu dibahas lain kesempatan saja. Paipai!