Pengakuan Dosa

Sebenarnya aku masih ragu untuk menceritakan tentang ini di sini. Namun akhirnya kuputuskan untuk meletakkannya di sini, sebagai memoar di kemudian hari. Saat aku bisa menatap balik, membaca ulang, dan memetik hikmah di dalamnya. Mungkin dalam beberapa bulan, tahun, atau dekade ke depan, cerita ini akan menjadi kenangan yang akhirnya bisa menggoreskan senyum setelah aku berdamai dengannya.

Kedengarannya berlebihan ya, namun saat ini memang itulah yang kurasakan. Pagi ini, aku baru saja membaca ulang beberapa postingan lamaku. Rasanya seperti menaiki mesin waktu dan membangkitkan luapan memori dan rasa yang kukira sudah terlupakan. Ada yang membuahkan senyum, ada juga yang menjadi desir dalam dada. Semuanya sudah menjadi bagian dalam diriku yang tak terpisahkan.

Cukup basa-basinya.

Maaf, aku sengaja berlama-lama untuk memberi jeda bagi diriku sebelum mengakui apa yang telah kulakukan.

Di penghujung tahun 2019 ini, aku mendapatkan ciuman pertamaku.

Ya, ciuman sungguhan, dari bibir ke bibir.

Namun bukan dari kekasihku.

Aku tahu aku salah, jadi kalian tidak perlu repot-repot menyalahkanku. Ini adalah salah satu kebodohanku yang terlalu lemah hati hingga mengijinkan ia mengambil apa yang seharusnya kujaga untuk dia yang sah.

Apa yang aku rasakan dari pengalaman pertama (dan kedua, ketiga, kesekian dalam hitungan menit setelahnya) itu?

Lembut, intim, basah, tawar, dibubuhi sejumput nafsu.

Lalu sesal menghantui setelahnya. Aku hampir menangis sambil berkata padanya, “Kenapa aku berikan yang pertama ini untukmu?”. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya lebih ditujukan untuk diriku sendiri. Kulihat seraut kecewa dan sedih merayapi air mukanya.

Tentu, aku tidak akan membiarkan diriku dicium oleh sembarang orang asing. Mari kita mundur sejenak, kira-kira dua bulan sebelum ini terjadi.

Sebentar.

Dua bulan?

Hingga kini memasuki bulan ketiga sejak pertemuan pertama kami (Januari 2020 pada saat tulisan ini digarap), aku masih terkejut menyadari betapa cepatnya semua ini terjadi. Satu sosok yang muncul mendadak di suatu senja pada bulan kesepuluh tahun itu. Katakanlah ia bernama Vigo.

Ia adalah teman dari teman kantorku. Teman dari temanku berarti temanku juga. Dulu, ia sempat bekerja di kantorku sebelum akhirnya dipindahkan ke kota lain. Namun pada saat itu, ia kembali lagi karena kantorku kembali membutuhkannya. Teman kantorku, sebut saja sebagai Tio, sudah beberapa kali menceritakan tentang Vigo sebelum ia datang. Katanya, kehadiran Vigo akan menambah anggota klub kecil Pokemon dan wibu kami (ngg, sebenarnya aku bukan wibu ya, aku hanya penikmat kultur Jepang πŸ˜… #laluDilemparinTamago). Aku, Tio, dan beberapa teman lain memang saat itu sering bermain kartu Pokemon saat jam istirahat atau setelah pulang.

Sebenarnya, aku baru saja terjun ke dunia Trading Card Game ini setelah diperkenalkan oleh Didi, pacarku (waktu itu belum berstatus sih, tapi sudah rasa pacar) pada bulan Agustus silam. Waktu itu kartu Pokemon berbahasa Indonesia baru saja rilis. Aku tidak tertarik karena memang belum pernah mencobanya sama sekali. Ia sempat menawarkan untuk membelikan Starter Deck yang kutolak secara halus karena merasa tidak akan bisa memainkannya. Namun akhirnya ia tetap membelikanku dan mengajariku cara bermainnya. Ternyata cukup seru. Aku pun hanya bermain dengannya setiap akhir pekan karena tidak ada orang lain yang dapat kuajak bermain. Tadinya.

Suatu siang di kantorku, aku melihat ada seseorang yang asyik menyusun kartu. Banyak kartu Pokemon berserakkan di mejanya, pun figure-figure dan Gundam di dekat monitornya. Dialah Tio. Aku pun memberanikan diri mendekati mejanya dan berkenalan. Sejak saat itu, aku mengenal teman-teman sepermainan, bahkan merekrut dua anggota squad-ku untuk ikut bermain. Lucu ya melihat bagaimana pusaran takdir bekerja. Dimulai dari riak kecil hingga akhirnya menjadi gulungan ombak.

Kembali ke topik utama.

Ya, akhirnya Vigo datang. Kami berkenalan. Tingginya kira-kira 170 cm, berkulit sawo matang, dan berkacamata. Mataku langsung tertuju pada ujung-ujung rambut ikalnya yang diwarnai coklat. Rambutnya sudah tumbuh lumayan panjang sejak ia warnai sehingga kini menjadi gradasi coklat-hitam. Wajahnya tidak semulus oppa Korea, pun perawakannya lumayan berisi. Aku tidak menyadarinya pada pertemuan pertama karena ia mengenakan jaket hitam berlengan panjang, namun rupanya ia memiliki tato di lengan kanannya. Singkat kata, jika aku diminta untuk membayangkan pria idaman, bukan ia yang akan muncul di pikiranku.

Ia tidak bisa diam. Tiap berdiri, duduk, atau berjalan, Vigo pasti akan melakukan gerakan ekstra. Entah itu ke kiri dan kanan saat berdiri, tidak berjalan dengan tegap dan lurus, juga mengerakkan kakinya saat duduk. Kadang aku gemas sendiri melihatnya.

Vigo adalah teman yang royal. Aku heran, seberapa besar penghasilanya sampai ia bisa membeli banyak kartu, mentraktir kami karaoke, bahkan membagi-bagikan kartu Pokemon kepada kami? Vigo bahkan mencarikan kartu Pokemon yang aku inginkan dan memberikanku kartu-kartu langka.

Aku bukan tipe orang yang senang menerima pemberian secara cuma-cuma. Beberapa kali kubalas kebaikannya dengan membelikan kopi, camilan, atau menghapus hutang makan KFC nya. Untunglah ia mau menerima.

Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi dekat dengannya.

Ah, sebenarnya aku tahu, namun pura-pura tak tahu.

Ini dimulai ketika klub kami karaoke bersama yang disponsori oleh Vigo. Lagu-lagu Jepang mengalun tanpa henti tiga jam lamanya. Vigo tampak lepas dan bernyanyi dengan penuh semangat. Semangatnya seperti menulari satu ruang large itu, termasuk aku. Selepas karaoke, kami makan bersama di KFC dekat situ. Aku berinisiatif membayari makannya untuk membalas traktiran karaokenya. Tentu tidak langsung kusebut terang-terangan, aku katakan bahwa aplikasi Dana sedang ada cashback, jadi ia bisa lebih hemat jika aku yang membelikan dahulu (setelahnya, aku tidak mau dibayar).

Aku satu meja dengannya dan seorang teman perempuan lain. Kami mengobrol sambil makan. Selesai makan, sebagian teman sudah pulang. Tersisa 5 orang yang masih ingin berjalan-jalan. Aku mengusulkan untuk ke mal di dekat situ. Tadinya, kami ingin naik taksi atau bajaj. Namun karena kelihatannya macet dan menurutku mal itu tidak jauh, aku pun mengajak mereka untuk berjalan kaki.

Rupanya, ukuran ‘dekat’ menurutku berbeda dari yang lain. Mereka sampai di mal dengan penuh peluh. Menurutmu, apakah 2 km itu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki? Jika ya, ayo berjalan bersamaku lebih sering agar terbiasa πŸ˜†.

Karena merasa bersalah, aku menyiapkan hadiah yang cukup ‘spesial’ untuk Vigo pada hari Senin. Spesial bukan karena nilainya, namun karena sentuhan personal dan kreatifitas yang kumainkan. Sebungkus Dark ChocoPie, selembar kartu Pokemon bergambar mirip kue yang dapat memulihkan kondisi khusus, dan sepucuk surat. Kubungkus dalam dus kartu Pokemon. Kutuliskan pesan agar segera pulih dari letih yang diakibatkan ‘petualangan’ bersamaku. Aku sendiri masih kagum dengan kreatifitas pemberianku. Aku hanya memberikan padanya karena 1 temanku naik motor ke mal, 1 lagi dari kantor berbeda, dan 1 lagi di lantai berbeda. Dari sinilah semua itu bermula. Ternyata memang aku yang memulai.

Izinkan aku melanjutkan kisah ini esok hari karena sekarang sudah pukul 5 subuh. Nanti kita cerita lagi tentang hal ini.

Akhirnya bebas πŸŽ“πŸ‘©β€πŸŽ“

Sebenarnya ini Desember tahun lalu sih, tapi karena belum ditulis di sini jadi rasanya belum sah. Oh ya setelah aku membaca postinganku sebelum-sebelumnya, rasanya cara menulisku sudah berubah. Dulu lebih terstruktur, sekarang jadi liar begini πŸ˜…. Maaf ya… Nanti kuusahakan mambuat postingan yang “serius” lagi. Yang kata-katanya baku, kalau ada kata asing di-italic, dan memenuhi kaidah SPOK. Pengen nyerpen lagi deh πŸ˜‚πŸ˜‚.

Oke, jadi setelah bergelut dengan skripsi, akhirnya aku lulus juga. Bukan hanya lulus, tapi juga jadi lulusan terbaik dari jurusanku. Bangga sedikit boleh kan? Walau sebenarnya aku tidak terlalu excited lagi karena aku sudah bisa menduganya. Bukannya sombong, tapi memang sewaktu kuliah aku bisa dikatakan cukup rajin dan mudah menyerap pelajaran. Dan kebetulan teman-temanku lebih menikmati masa kuliahnya ketimbang aku 🀣. Walau aku ga ansos-ansos amat sih, punya 2-5 teman lah yang bisa diajak berkelompok kalau tugas. Yang dekat banget sih cuma Lili sama Setro. Aku ikut sedikit kegiatan kampus, tapi tidak pernah sampai malam karena rumahku jauh dan aku juga ditungguin nenekku.

Rasanya aku belum menikmati kuliah semaksimal yang lain (trip bareng temen kuliah, pulang malam bahkan pagi karrna jadi panitia acara, rapat dan lembur, nge-MOS in maba, kenalan sama kakak dan adik kelas, dll) tapi aku merasa cukup puas. Aku kenalan dengan adik kelas lewat menjadi asisten dosen dan itu sudah cukup seru. Bahkan dari situ aku jadi bisa kenal dengan kak Didi πŸ˜†.

Begitulah 4 tahun perkuliahanku akhirnya berakhir juga. Demi selembar kertas yang bahkan belum pernah kupakai (aku melamar kerja sebelum lulus, bahkan sebelum sidang skripsi). Saranku, lebih nikmati saja momen kuliah kalian. Ikut kegiatan, cari koneksi, cari pacar(?) dan sahabat. Aku sendiri juga kadang bolos kalau malas, harus mengerjakan tugas kelas lainnya, atau kalau pelajaran di kelas tidak menarik. Aku bukan straight A student yang datang pagi dan rajin mencatat kok (well, mungkin 2 semester pertama hampir begitu). Mungkin bandelku di kuliah itu 20% saja, masih kurang banget sih πŸ˜‚.